Senin, 25 April 2011
Nyanyian Jiwa...
"Nyanyian Jiwa Teriring Rindu...."
Aku hanya ingin menangis,
membuang segala gundah yang terbeku di hati,
biarkan ianya cair.
Sendiri bersama diriku ini.
Aku hanya ingin menangis,
karena aku yakin manusia tidak memahami
yang tersayang juga tidak akan mengerti
dari aku berbicara dan dipandang dengan seribu muka
aku hanya ingin menangis
sendiri bersama diriku ini
Titisan itu sahabat tercinta
Aku merasa ada di dunia ini
tidak semua manusia memahami semua bahasa
tidak semua yang disayang akan mencintai diri semula
Akrab hilang bila berjauh
yang ada sentiasa hanya DIA
sangat berat untuk aku berbicara
maka tangis adalah bahasa termudah
aku hanya ingin menangis,
menenangkan hati yang menggeletar,
biarkan segalanya mencair,
sendiri bersama diriku ini.
-Translate From : Hilal Asyraf -
Nilai aku sebagai hamba yang Hina....
Sesaat kulihat tak ada yang berbeda, namun entah kenapa semua terasa dekat, semakin kumendekat, semakin kutersadar itu memang sangat dekat, bahkan lebih dekat dari nafas dan nadiku....
Nilai aku sebagai hamba yang Hina....
Karena tak ada lagi kata kita, yang ada hanya aku, karena hanya aku yang tahu....
Nilai aku sebagai hamba yang Hina....
Saat kepercayaan itu pudar, ada ruang yang membentang yang tak tersentuh oleh hati, ada batas yang tak terbias oleh asa yang terpendam.
Kecewalah akan diriku yang Hina....
Kecewalah akan aku yang tak Sempurna....
Karena aku bukan makhluk titisan Dewa yang selalu ada disaat jiwa keronta....
Nilai aku sebagai hamba yang Hina....
Karena setiap tetesan airmata ini adalah "Rindu..."
Rindu akan Diri-NYA....
Rindu akan Diri Sendiri....
dan
Rindu akan Kalian....
Nilai aku sebagai hamba yang Hina....
Tidak ada yang berubah, aku tetap aku yang tahu siapa aku....
Tidak ada yang berubah, aku tetap aku yang selalu menyayangi kalian sampai nafas ini kembali pada pemilikku seutuhmya....
Tapi mungkin jangan banggakan aku, karena aku adalah Hamba yang Hina....
dan
Rindu akan Kalian....
Nilai aku sebagai hamba yang Hina....
Tidak ada yang berubah, aku tetap aku yang tahu siapa aku....
Tidak ada yang berubah, aku tetap aku yang selalu menyayangi kalian sampai nafas ini kembali pada pemilikku seutuhmya....
Tapi mungkin jangan banggakan aku, karena aku adalah Hamba yang Hina....
Nilai aku sebagai hamba yang Hina....
Agar aku senantiasa selalu dekat dengan-MU, agar aku hanya mencari Kekuatan dan Penghargaan hanya dari-MU....
Keheningan Malam, 24 April 2011
"Ketika tersadar dari beberapa bait yang Tersirat"
Selasa, 19 April 2011
Aku raih gelar "Sarjana" hanya dengan sebelah Otakku
Suatu hari dalam sebuah perjalanan singkat antara Pamulang - Bandung…
Chapter 1
Sore itu mentari bersinar menghangatkan bumi dan isinya, sehangat hatiku yang tak sabar ingin segera bertemu ayah dan ibuku di kampung halaman nun jauh disana. Dalam sebuah kendaraan travel yang akan segera mengantarkan aku ke kota kembang, kota kelahiranku tercinta. Aku duduk manis tepat di belakang supir melihat kearah luar jendela sebelah kananku sambil menikmati warna langit jingga yang begitu mempesona.
Tak lama kemudian datanglah penumpang lain, aku menebak orang itu akan duduk disebelahku. Karena sebelumnya, terlihat dari diskusi antara dia dan petugas travel saat menanyakan nomor kursinya. Dugaanku benar, dia berjalan kearah ku, kemudian membuka pintu mobil dan menaikan terlebih dahulu barang-barangnya ke atas kursi kosong disebelahku sambil berguman “Aduuuh riweeuh deh cewek kalo pergi-pergi” dia tampak sulit mengangkat tas tentengannya serta merta mengatur tempat duduknya.
Seorang gadis cantik berkaca mata, berperawakan mungil dan berkulit putih duduk disampingku. Saat itu dia mengenakan celana jins biru dongker, atasan berwarna putih dihiasi motif bunga-bunga kecil berwarna ungu dengan kaos manset dan jilbabnya yang berwarna senada, dia mengenakan sandal tepleknya serta membawa tas selempangnya yang sedikit penuh isinya.
Tak lama kemudian datanglah penumpang lain, aku menebak orang itu akan duduk disebelahku. Karena sebelumnya, terlihat dari diskusi antara dia dan petugas travel saat menanyakan nomor kursinya. Dugaanku benar, dia berjalan kearah ku, kemudian membuka pintu mobil dan menaikan terlebih dahulu barang-barangnya ke atas kursi kosong disebelahku sambil berguman “Aduuuh riweeuh deh cewek kalo pergi-pergi” dia tampak sulit mengangkat tas tentengannya serta merta mengatur tempat duduknya.
Seorang gadis cantik berkaca mata, berperawakan mungil dan berkulit putih duduk disampingku. Saat itu dia mengenakan celana jins biru dongker, atasan berwarna putih dihiasi motif bunga-bunga kecil berwarna ungu dengan kaos manset dan jilbabnya yang berwarna senada, dia mengenakan sandal tepleknya serta membawa tas selempangnya yang sedikit penuh isinya.
Aku tersenyum simpul melihat tingkah polahnya sambil membantu menyimpankan tas yang dibawanya, agar dia bisa segera duduk dengan nyaman. Tak lama setelah itu, dia menyapaku dan berkata “Haaaai…” dia menyodorkan tangan kanannya untuk memperkenalkan dirinya, dan aku pun tersenyum meraih tangan mungil itu sambil menyebutkan namaku. “Mau ke bandung ya mba?” tanyanya, “iya” jawabku singkat, “Bandung nya dimana?” tanyanya lagi, “di dago” jawabku, “ooohhh....klo aku mau ke Cimahi” balasnya. Aku hanya ber ah –oh ria saat gadis itu menceritrakan tujuannya ke Bandung , dia ternyata akan menghadiri pernikahan sahabatnya, dan dia tidak tahu dimana lokasi tempat sahabatnya menikah, hanya berbekal alamat lengkap yang dia save di HP nya yang sudah lowbatt, ckckckck...
Gadis itu sangat suka bercerita dan bertanya, dia menceritakan hampir semua tentang pribadinya kepadaku, mmmhhhh ternyata dia gadis yang sangat supel dan cerewet, tidak ada bedanya denganku, bisikku dalam hati, hehehe. Tadinya aku ingin tidur selama perjalanan, tetapi karena ada teman berbicara hilang sudah rasa kantukku. Sampai-sampai supir didepan kita hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum-senyum mendengarkan cerita-cerita kita, baru berkenalan 5 menit yang lalu, tetapi sudah seperti kenal bertahun-tahun, pikirnya.
Gadis itu sangat suka bercerita dan bertanya, dia menceritakan hampir semua tentang pribadinya kepadaku, mmmhhhh ternyata dia gadis yang sangat supel dan cerewet, tidak ada bedanya denganku, bisikku dalam hati, hehehe. Tadinya aku ingin tidur selama perjalanan, tetapi karena ada teman berbicara hilang sudah rasa kantukku. Sampai-sampai supir didepan kita hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum-senyum mendengarkan cerita-cerita kita, baru berkenalan 5 menit yang lalu, tetapi sudah seperti kenal bertahun-tahun, pikirnya.
Singkat kata perkenalanku dengannya berujung pada satu pertanyaan yang mungkin sudah biasa ditanyakan pada awal berkenalan dengan orang yang baru kita kenal. “Eh kamu teh angkatan berapa?” aku bertanya dengan logat sundaku, “2004...” katanya singkat “tapiii, baru lulus kemarin dan sekarang lagi nyari kerjaan niy!” lanjutnya lagi. “Ooooowh...” jawabku, ternyata dia seangkatan denganku. “Kok, baru lulus?” tanyaku segan, karna aku sendiri yang menyelesaikan kuliah selama 4,5 tahun sudah lulus 1,5 tahun yang lalu. “Aku sakit” jawabnya sambil tersenyum tanpa melihat tatapan mataku, “Oooh maaf...” jawabku, ”mmmhhhh sakit apa?” tanyaku penasaran.
Dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya diam seribu bahasa. Namun tiba-tiba dia meraih tanganku untuk menunjukan sesuatu padaku, telunjuk tanganku disentuhkan pada sisi kepala sebelah kanannya, awalnya aku bingung maksudnya apa, lalu dia berkata “coba katakan padaku apa yang kamu rasakan?” tanyanya, aku menyentuh kepalanya dan tidak merasakan apa-apa, “apa?” tanyaku heran. Tetapi setelah dia tekan telunjukku lebih keras lagi dan aku menyusuri setiap permukaan kepalanya....
Masya Allah....dibalik jilbab itu....
Masya Allah....dibalik jilbab itu....
Selasa, 12 April 2011
Coz' Mizz You
Bismillah
Sepenggal kisah sederhana, untukmu dan nuraniku :-)
*cerita dadakan menjawab curhat seorang sahabat :-D
Sepenggal kisah sederhana, untukmu dan nuraniku :-)
Semoga bermanfaat!
Pada suatu hari, ada seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Dia bingung, tak tahu apa yang harus di lakukannya, tak sengaja ia meronggoh kantung celana nya, heeei...ada uang logam di kantung celananya, "mmmmhhhhh aku ada ide" bisiknya dalam hati.
Akhirnya untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam itu di depan temannya. Kemudian temannya berhenti bekerja, temannya mengambil uang itu "Berhasil!" guman pekerja itu. Tetapi ternyata temannya berlalu dan bekerja kembali tanpa menoleh keatas sedikitpun. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama. Kecewalah sang pekerja...
Tiba-tiba ia mendapat ide lain, ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Dan batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, akhirnya temannya itu menengadah ke atas menyapanya, mendengarnya, memanggil namanya, maka tersenyumlah pekerja itu :-)
Tahukah kawan?
ALLAH SWT kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali ALLAH SWT melimpahi kita dengan rahmat, tetapi kadang itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada NYA. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepada NYA, ALLAH SWT sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.
Bukan tak sayang, bukan juga benci, DIA hanya Rindu....
Rindu agar kita selalu Menyapa-NYA, Mendengar-NYA, dan Memanggil nama-NYA....
*cerita dadakan menjawab curhat seorang sahabat :-D
Senin, 04 April 2011
Bidadari itu ada dibumi
Bismillah….
Mmmmhhhh.....Mungkin ini nasihat atau artikel yang sering para ladies baca, bahkan terkesan klasik atau udah biasa :)
Tapiiiiii ini adalah….
Nasihat yang pertama kali aku terima saat mendapatkan hidayah “hijrah yang sebenar-benarnya hijrah” :#
Nasihat yang membuatku tertunduk malu :(
Nasihat yang mengusik hati untuk kembali berkaca diri :@
Tapiiiiii ini adalah….
Nasihat yang pertama kali aku terima saat mendapatkan hidayah “hijrah yang sebenar-benarnya hijrah” :#
Nasihat yang membuatku tertunduk malu :(
Nasihat yang mengusik hati untuk kembali berkaca diri :@
Untuk bernostalgia....
Sekedar Nasihat untuk Kaum Hawa dari Sang Murabbi dikala SMA :-)
Semoga bermanfaat!
Sekedar Nasihat untuk Kaum Hawa dari Sang Murabbi dikala SMA :-)
Semoga bermanfaat!
"Untuk membentuk bibir yang menawan, Ucapkan kata-kata kebaikan"
"Untuk mendapatkan mata yang indah, Carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai"
"Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, Berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan"
"Untuk mendapatkan rambut yang indah, Mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari"
"Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, Berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, Dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian. Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain, Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni"
"Jadi, jangan pernah kucilkan seseorang dari hati anda Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, Ingatlah senantiasa, Jika suatu ketika anda membutuhkan pertolongan, Akan senantiasa ada tangan terulur"
"Dan dengan bertambahnya usia anda, Anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, Satu untuk menolong diri anda sendiri, Dan satu lagi untuk menolong orang lain"
"Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, Bukan pada bentuk tubuhnya, atau cara dia menyisir rambutnya.
Kecantikan wanita terdapat pada matanya, cara dia memandang dunia. Karena di matanyalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, Di mana cinta dapat berkembang"
"Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah Wanita Shalehah"
(*Nasihat yang kutulis dengan spidol hijau-orange dan selalu mejeng pada halaman pertama binder kuliah ku dari semester awal sampai akhir :p)
Minggu, 03 April 2011
Rahasia Kecil Kebahagiaan
Renungan.....
(*Nasihat untuk diri)
Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain.
“Hidup bagaikan lukisan untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap”
Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan.
“Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat”
Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain dan bermanfaat bagi orang lain.
“ Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih”
Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka.
"Semakin menunjukkan seberapa banyak kita tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan kita"
Rahasia kebahagiaan adalah ketulusan hati, memandang orang lain sebagai keluarga
“Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu, ukhuwah itu indah bila mencintai dan dicintai karena-NYA ”
Rahasia kebahagiaan adalah tidak "sombong"
“Karena Kita miskin tanpa rahmat dari NYA,dan hanya ALLAH yang berhak Sombong”
Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu.
“Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya"
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri
"Aku bebas dalam diriku dan aku milik NYA sepenuhnya”
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia.
“Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup dengan kebahagiaan”
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya untuk menjadi warna, bukan menginginkan mereka harus sebagaimana adanya
“Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna sama?”
Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati kita terbuka dan mudah memaafkan
“Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar"
Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada apapun
“Karena berbagi dengan mereka aku kuat untuk melangkah di tengah badai persoalan dan dera kesedihan, serta tertawa bersama untuk sekedar berbagi kebahagian"
Rahasia kebahagian adalah bersyukur menerima semua keputusan ALLAH....
"karena ALLAH tidak memberikan apa yang kita inginkan tetapi memberikan apa yang kita butuhkan..."
"karena ALLAH tidak memberikan apa yang kita inginkan tetapi memberikan apa yang kita butuhkan..."
"Dan orang yang paling berbahagia adalah
orang yang selalu merasa dekat dengan-NYA
Kapanpun dan Dimanapun"
Senin, 28 Maret 2011
Karena Engkau Berharga....
Sebuah cerpen Penggugah Jiwa,
Karya Sahabat Terbaik A!r
Karya Sahabat Terbaik A!r
Seekor Muray terbang melayang melintas cakrawala, bersiul riang mempercantik irama nyanyian alam. Kesana kemari sambil menghempaskan penat, semakin lama semakin merendah. Ia melihat sejumput rumput liar sedang tertunduk lesu mengusik keceriaan.
“Tak biasanya..” pikirnya, kemudian ia terbang semakin landai.
“Assalamu’alaykum, teman!” Muray menyapa dengan ramah.
“Wa’alaykum salam, kawan!” jawab si rumput dengan senyum yang dipaksakan.
“Apa yang terjadi? Sepertinya segelintir masalah sedang bertengger dibalik senyummu itu..”
“Ah, hanya masalah kecil, tidak terlalu penting!”
“Sekecil apapun masalah tetaplah masalah, akan berkurang setengahnya apabila kita saling berbagi.”
“Tapi kau tidak akan mengerti..”
“Mungkin aku bisa membantu, aku tidak akan bisa bersiul sementara ada saudaraku yang menghadapi kesulitan.”
“Baiklah, jika kau memaksa.” Kemudian rumput itu melanjutkan.
“Hmmm.. akhir-akhir ini aku merasa.. Mengapa aku diciptakan sebagai rumput liar yang selalu diinjak-injak dan tak dihiraukan oleh manusia. Mengapa mereka dengan tanpa perasaan menginjak kami, perlakuan mereka pun berbeda bila berjalan di atas rumput lain, rumput Jepang misalnya. Memang tubuh mereka lebih indah dibanding kami, tapi sebagai sesama rumput, kami pun mempunyai hak yang sama bukan? Apakah penghargaan itu hanya diberikan kepada yang molek saja? Kalau begitu Tuhan tidak adil menciptakan kami seperti ini. Mengapa kami tidak diciptakan seperti mereka? Atau sepertimu, bisa terbang bebas tanpa ada yang bisa menginjak, setiap manusia menengadah bila melihatmu seolah engkau adalah agung... Aku... hanya tak habis pikir..” curahan hati si Rumput diakhiri dengan nada yang hampa.
Muray agak terkejut mendengar cerita si Rumput, namun...
“Saudaraku, tahukah engkau bahwa Tuhan itu Mahaadil? Aku tidak sedang berbohong atau melebih-lebihkan, tapi memang begitu adanya.” Muray memulai dengan menyebut nama Tuhan.
“Sudah kubilang kau tidak akan mengerti Muray, karena kau tidak merasakan apa kami rasakan. Karena kau bukanlah sejumput rumput..!” sanggah si Rumput dengan nada kecewa.
“Saudaraku,” Muray tetap bersabar.
“Memang rumput liar adalah rumput yang paling jarang dihiraukan oleh manusia, yang selalu diinjak-injak, aku mengerti, sepenuhnya mengerti meskipun tidak pernah merasakannya. Memang rumput selalu ditanam dibawah, dan bisa ditemukan dimana saja dengan harga yang murah atau terkadang tidak berharga sama sekali. Namun setiap makhluk diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan, menurutku itu semua justru adalah kelebihanmu, wahai saudaraku.”
“Aku tak mengerti apa yang baru saja kau katakan Muray...” Rumput mengernyitkan alisnya. Muray tersenyum bijak,
“Kokoh, engkau adalah kokoh meski berkali-kali diinjak. Kau tetap berdiri, tak kurang sesuatu apapun.”
“Rendah hati, manusia boleh tak menghiraukan karena kau memang tak mencolok, padahal tahukah wahai sahabat, engkau telah memberikan kehidupan bagi kami para hewan, memberikan perlindungan bagi cacing dan yang lain. Biarlah mereka tak perlu tahu, karena itu akan membuatmu besar kepala.”
Si rumput mulai tertunduk, matanya berkaca-kaca...
“Harga murah bukan berarti kau rendah, melainkan memberi kesempatan pada setiap golongan manusia untuk mampu mendapatkanmu. Bila hargamu mahal, bagaimana dengan kuda yang tidak akan makan, karena pemiliknya tak mampu membelimu? Bagaimana dengan sapi yang tidak akan mampu mengeluarkan susunya karena dia sendiri pun tak mendapat pasokan makanan.”
“Kelembutan yang kau berikan pada setiap anak manusia memberikan kedamaian bagi mereka ketika melepaskakn lelah dengan merebahkan tubuhnya padamu.”
“Meskipun selalu berada di bawah, tetapi engkau masih tetap berada di atas tanah, saudaraku. Kau lihat tanah? Ia bahkan lebih menderita, tapi pernahkah ia mengeluhkan semua itu? Tidak, karena ia tahu tugasnya, sebagai pijakan. Mungkin kau memang merana, tapi ketahuilah masih banyak yang lebih menderita dibandingkan kita.”
“Galilah dirimu lebih dalam, sahabat, karena di situlah kau akan tahu betapa Tuhan Menciptakanmu dengan segala kesempurnaan penciptaan. Kau boleh tak mempunyai bunga, tapi bunga kehidupan adalah milikmu. Kau boleh tak memiliki keharuman yang dapat menarik simpati tapi tanpa itu pun banyak yang bergantung padamu. Tak mengapa kau tak menjulang tinggi karena itu memberikan kesempatan bagi siapapun untuk dapat menggapaimu.”
Butiran air mata mulai berjatuhan, si rumput semakin tertunduk.
“Ketahuilah saudaraku, dengan mengenal diri sendiri kau akan lebih mengenal Tuhan.”
“Masing-masing dari kita memiliki tugas yang berbeda, dan Dia menciptakan segala sesuatu sesuai dengan perannya sendiri-sendiri.”
“Meskipun aku bisa terbang, siapa saja bisa menyakitiku. Bebas? Belum tentu. Terkadang kami menarik perhatian manusia sehingga mereka menangkap kami, adakah manusia yang menangkap lalu mengurungmu? Aku rasa tidak.”
“Lalu bagaimana dengan rumput Jepang? Memang mereka lebih elok daripadamu, tapi apakah mereka sekuat dirimu? Boleh jadi dia lebih berharga darimu, tapi apakah memberi kesempatan kepada setiap makhluk untuk memilikinya?”
Si Rumput mengeleng lemah.
“Wahai sahabat, Tuhan itu Mahaadil dan akan selamanya seperti itu. Dialah yang mengajari kita apa itu kehidupan. Dia yang menjadikan kita sebagai bahan pembelajaran bagi orang-orang yang berpikir. Usahlah manusia menghargai kita, cukup Tuhan yang mengetahuinya, karena Dialah sebaik-baiknya Saksi.”
Si Rumput tak berkata-kata, tapi Muray tahu bahwa ia telah mendapat pelajaran baru.
“Semoga percakapan kita ini bukanlah percakapan yang sia-sia. Selamat tinggal saudaraku, ingatlah selalu bahwa Tuhan tetap bersama kita. Assalamu’alaykum, Sahabat!” sambil tersenyum, Muray melambaikan sayapnya dan mulai terbang.
”Wa’alaykumussalam, Muray, terima kasih” jawab si Rumput sambil menangis haru.
Muray pun terbang semakin tinggi, hendak mencari pembelajaran baru kembali.
Namun... Tak lama kemudian...
DZINGNGNGNG...!
Sebuah peluru senapan angin menembus tepat di jantung Muray yang jatuh seketika. Darahnya menggenang membasahi Si Rumput yang tercengang.
“Hahaha! Akhirnya ada juga yang bisa kumakan hari ini!” seorang pemburu membawa tubuh Muray dengan genggaman kuat, meninggalkan bercak darah yang menempel pada tubuh si rumput bersama dengan kehangatan cintanya...
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia...”
(Q.S. Ali Imran: 191)
Langganan:
Postingan (Atom)












